Beranda | Artikel
Resep Hidup Bahagia
21 jam lalu

Resep Hidup Bahagia adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Kitab Fawaidul Fawaid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 20 Safar 1448 H / 6 Agustus 2026 M.

Kajian Islam Tentang Resep Hidup Bahagia

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu. Ketahuilah bahwa Allah membatasi antara manusia dan hatinya, dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” (QS. Al-Anfal [8]: 24)

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan orang-orang beriman untuk memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya, yaitu ketika seruan itu mengajak kepada perkara yang memberikan kehidupan bagi mereka dan menghidupkan mereka.

Ayat ini juga menegaskan bahwa Allah membatasi manusia dari hatinya. Kepada Allah pula seluruh manusia akan dikembalikan dan dikumpulkan pada hari kiamat.

Ayat yang agung ini menjelaskan makna kehidupan yang sesungguhnya di dunia dan akhirat. Makna tersebut termasuk hikmah terbesar diturunkannya petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yaitu petunjuk Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi yang shahih.

Kandungan ayat ini menjadi motivasi agar seorang hamba lebih bersungguh-sungguh mempelajari petunjuk Allah dan Rasul-Nya, kemudian mengamalkannya.

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa ayat ini mengandung beberapa perkara, faedah, dan pelajaran.

Kehidupan yang Bermanfaat Diperoleh dengan Istijabah

Faedah pertama, kehidupan yang bermanfaat hanya diperoleh dengan memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Orang yang ingin menjadikan hidupnya bermanfaat, bermakna, dan berarti harus menjadikan lahir dan batinnya selalu mengikuti panggilan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Barang siapa tidak memiliki istijabah, yaitu kemauan untuk mengikuti panggilan Allah dan Rasul-Nya, berarti ia tidak memiliki kehidupan yang berarti serta tidak merasakan kehidupan yang bermakna dan bermanfaat.

Secara zahir, ia tetap hidup, tetapi bentuk kehidupannya hanya seperti kehidupan hewan, yang juga dimiliki oleh binatang.

Kehidupan Rendah dan Kehidupan Hakiki

Kehidupan yang hanya berisi makan, minum, tidur, memuaskan nafsu, dan hal-hal semisalnya adalah kehidupan seperti binatang. Kehidupan semacam ini sama-sama dimiliki oleh manusia dan hewan yang paling rendah sekalipun. Ia tidak meninggikan dan tidak memuliakan manusia.

Kehidupan hakiki yang baik dan indah adalah kehidupan orang yang selalu memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya, Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lahir dan batin. Inilah solusi untuk memperbaiki kualitas hidup dan merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya.

Solusi ini nyata karena menyangkut lahir dan batin manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menciptakan manusia, maka Dialah yang paling mengetahui keadaan manusia dan sebab-sebab yang memperbaiki hidup mereka.

أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

“Tidakkah Dia yang menciptakan mengetahui? Dan Dia Mahahalus lagi Mahateliti.” (QS. Al-Mulk [67]: 14)

Allah adalah Al-Lathif, Yang Mahahalus, dan Al-Khabir, Yang Maha rinci pengetahuan-Nya. Inilah kehidupan indah yang hakiki.

Islam Menjelaskan Jalan Hidup Bahagia

Orang beriman kepada Allah dan hari akhir tidak perlu mencari ke mana-mana ketika membahas hidup yang indah, tenang, dan damai. Agama Islam adalah agama yang sempurna dan lengkap petunjuknya. Islam diturunkan sebagai karunia Allah yang sangat besar bagi manusia.

Al-Qur’an adalah sebaik-baik petunjuk. Hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah sebaik-baik bimbingan dalam petunjuk yang sempurna. Tidak mungkin Islam yang sempurna tidak menjelaskan cara hidup indah yang sejati, hidup bahagia yang sesungguhnya, serta cara memberi manfaat dan makna dalam hidup.

Di antara hikmah terbesar disyariatkannya Islam adalah mewujudkan hal tersebut. Karena itu, ketika orang beriman tidak tenang hidupnya, hal itu menjadi sesuatu yang aneh. Sebab, ia dekat dengan sebab ketenangan utama dalam hidupnya.

Lebih mengherankan lagi ketika seseorang mencari ketenangan kepada orang-orang yang tidak mengenal agama. Mereka berbicara tentang memperbaiki kualitas hidup dan menjadikan hidup bahagia, padahal hati mereka jauh dari Penciptanya dan jiwa mereka tidak ditundukkan untuk mengikuti agama. Sumber kebahagiaan hakiki tidak mereka pahami. Bahkan, mereka jauh darinya.

Lupa kepada Allah Membuat Manusia Lupa kepada Dirinya

Makna firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam beberapa ayat Al-Qur’an telah dijelaskan pada kajian-kajian sebelumnya. Di antaranya adalah firman Allah dalam Surah Al-Hasyr.

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنسَاهُمْ أَنفُسَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Janganlah kamu seperti orang-orang yang melupakan Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.” (QS. Al-Hasyr [59]: 19)

Lupa kepada diri sendiri bermakna tidak tahu diri: lupa kepada kemaslahatan hidupnya, lupa kepada arah tujuan kebaikan baginya, lupa kepada hal-hal yang menjauhkan dirinya dari kehidupan rendah seperti hewan, dan lupa kepada hal-hal yang mendatangkan kemuliaan bagi dirinya.

Hal itu terjadi karena ia tidak belajar petunjuk Allah, berpaling dari mengingat Allah, lalai mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala, melalaikan tauhid, melalaikan iman, serta melalaikan pemahaman dan pengamalan agama. Akibatnya, Allah menjadikan ia lupa kepada dirinya sendiri.

Orang yang lupa kepada dirinya sendiri tidak mampu memperbaiki orang lain. Saat ini, banyak orang lebih mudah mengonsultasikan masalah psikis dan kejiwaannya kepada orang yang dianggap ahli. Namun, jika orang yang dianggap ahli itu tidak mengenal agama, jangankan memperbaiki orang lain, memperbaiki dirinya sendiri pun ia tidak mampu.

Keluarganya yang paling dekat pun tidak akan mampu ia beri saran menuju kebahagiaan, karena dirinya sendiri dibuat lupa terhadap sebab-sebab kebahagiaannya. Ungkapan Arab yang terkenal menyebutkan bahwa orang yang tidak memiliki sesuatu tidak akan mampu memberikannya. Jika seseorang benar-benar memiliki kebahagiaan, dirinya sendiri tentu merasakannya sebelum orang lain.

Orang yang Mengikuti Seruan Allah adalah Orang yang Hidup

Kehidupan indah yang sesungguhnya adalah kehidupan orang yang selalu mengikuti seruan Allah dan seruan Rasul-Nya, lahir dan batin.

Mereka inilah orang-orang yang hidup dalam arti sesungguhnya, meskipun telah mati. Selain mereka adalah orang-orang yang mati pada hakikatnya, meskipun secara fisik masih hidup. Inilah resep hidup bahagia yang sesungguhnya. Bahkan setelah mati pun, mereka tetap hidup.

Para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah selalu didoakan kebaikan. Setiap nama mereka disebut, kaum muslimin mengucapkan rahimahullah, semoga Allah merahmatinya, memberkahinya, dan mengampuni dosa-dosanya. Ketika membaca kitab-kitab mereka, kaum muslimin banyak memuji dan mendoakan mereka.

Para imam besar Ahlus Sunnah wal Jamaah, pemuka mereka adalah para sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in. Nama Abu Hurairah sering disebut. Demikian pula sahabat-sahabat yang lebih tinggi lagi, seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, dan para sahabat lainnya radhiyallahu ‘anhum ajma’in.

Mereka dipuji, biografinya dibaca, dijadikan teladan, dan selalu didoakan semoga Allah meridai mereka. Demikian pula para ulama setelah mereka dari kalangan tabiin, seperti Imam Muhammad bin Sirin, Imam Sa’id bin Al-Musayyab, Hasan Al-Bashri, lalu generasi tabiut tabiin seperti Imam Malik bin Anas dan Imam Sufyan.

Ulama Tetap Hidup dengan Ilmu dan Kebaikan

Para ulama sejak masa Abdullah bin Mubarak hingga Imam Bukhari dan Imam Muslim telah wafat. Namun, ketika umat membaca Shahih Bukhari, Shahih Muslim, tafsir Ibnu Katsir, atau menukil pernyataan Imam Ibnu Qayyim dalam kitab ini, juga guru beliau, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, mereka tetap hadir melalui ilmu yang mereka tinggalkan.

Demikian pula para ulama Ahlus Sunah yang datang kemudian, seperti Syaikh bin Baz rahimahullah, Syaikh Al-Albani rahimahullah, dan Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah. Mereka selalu didoakan, dipuji karena kebaikannya, dan dimohonkan balasan terbaik kepada Allah. Walaupun telah wafat, mereka tetap hidup di hati kaum muslimin.

Pahala mereka terus mengalir karena telah mengajarkan kebaikan kepada umat, mengajarkan akidah, serta membimbing kepada petunjuk yang benar.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melakukannya.” (HR. Muslim)

Pemuka seluruh pembimbing kebaikan adalah nabi yang mulia, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Di samping balasan besar di sisi Allah bagi beliau, pahala umat yang mengamalkan kebaikan juga sampai kepada beliau tanpa perlu dikirimkan.

Pahala itu sampai secara otomatis karena semua kebaikan yang dilakukan umat, setelah taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebab utamanya adalah bimbingan, dakwah, pengajaran, dan nasihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sebaik-baik rasul yang menasihati umatnya.

Kejahilan Mematikan Hati

Para pembawa ilmu tetap hidup meskipun jasadnya telah wafat. Adapun selain mereka, walaupun tampak hidup secara fisik, hakikatnya telah mati.

Kejahilan terhadap agama menyebabkan hati manusia mati. Dalam kitab Ighatsatul Lahfan, Imam Ibnu Qayyim menukil perkataan seorang penyair tentang hati yang mati karena tidak mengenal agama, tidak memahaminya, dan tidak mengamalkannya.

Penyair itu berkata, “Dalam kebodohan (tidak paham agama), sebelum kematian, ada kematian bagi pelakunya. Tubuh-tubuh mereka, sebelum masuk kubur, telah menjadi kuburan.” Maknanya, orang yang tidak memahami agama telah mati sebelum mati; hatinya telah mati. Tubuhnya pun, sebelum dikuburkan, telah menjadi kuburan bagi hatinya.

Inilah kematian yang sesungguhnya. Karena itu, Islam diturunkan Allah untuk menghidupkan manusia. Seruan Allah dan Rasul-Nya mengajak kepada sesuatu yang memberikan kehidupan: kehidupan yang indah dan hakiki.

Kesempurnaan Hidup Sesuai Kesempurnaan Istijabah

Imam Ibnu Qayyim menjelaskan, “Oleh karena itu, orang yang paling sempurna hidupnya adalah orang yang paling sempurna dalam memenuhi seruan Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.”

Orang yang paling sempurna hidupnya adalah orang yang paling sempurna mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya, mempelajari agama ini dengan benar dan niat yang ikhlas, lalu mengamalkannya.

Inilah kehidupan yang paling indah, bermakna, dan bermanfaat. Kehidupan seperti ini terdapat pada orang-orang beriman, sebagaimana tampak dalam biografi para nabi dan rasul ‘alaihimush shalatu was salam, para sahabat radhiyallahu ‘anhum, serta orang-orang shalih yang mengikuti jalan mereka dengan baik.

Dalam kehidupan mereka tidak didapati banyak masalah dalam urusan dunia. Menurut pandangan manusia, boleh jadi mereka tampak bermasalah. Namun, mereka merasakan kebahagiaan sejati dan ketenangan yang sesungguhnya dalam hati.

Inilah kehidupan indah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan melalui agama-Nya. Kehidupan ini seharusnya dirasakan secara sempurna, atau setidaknya diambil bagian besarnya, oleh orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir.

Setiap Petunjuk Rasul Membawa Bagian Kehidupan

Imam Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa seluruh ajakan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yaitu ajakan kepada Al-Qur’an dan petunjuk beliau berupa hadits-hadits shahih, mengandung kehidupan. Pada setiap ajakan beliau terdapat satu bagian dari kehidupan.

Siapa yang luput dari satu bagian ajakan kepada petunjuk Allah dan Rasul-Nya, atau luput dari memahami petunjuk Allah dan Rasul-Nya, maka luput pula darinya satu bagian dari kehidupan. Kehidupan pada diri seseorang sesuai dengan kadar pemenuhan dirinya terhadap seruan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Petunjuk Allah diturunkan dengan bagian-bagian yang menyempurnakan kehidupan. Semakin banyak petunjuk yang dikumpulkan, semakin banyak pula kebahagiaan hidup yang diraih. Jika sedikit yang dikumpulkan, maka sedikit pula kebahagiaan dan kebaikan hidup yang dirasakan.

Semangat Sahabat Mengumpulkan Petunjuk

Para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sangat bersemangat untuk selalu berkumpul dan duduk bersama beliau. Mereka melakukannya setelah shalat berjemaah di masjid, ketika bertemu beliau, atau saat ada kegiatan bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Mereka juga memiliki kesibukan mencari nafkah, mengurus keluarga, dan menjalani kehidupan rumah tangga. Namun, mereka tidak ingin kehilangan kesempatan mengumpulkan sebanyak mungkin bagian dari kebaikan hidup. Semakin banyak kebaikan itu dikumpulkan, semakin besar pula kebahagiaan bagi diri, keluarga, dan kehidupan sehari-hari mereka.

Karena itu, para sahabat radhiallahu ‘anhum tidak ingin tertinggal dalam mendengarkan petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Bahkan Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu, sahabat yang sangat mulia dan paling utama setelah Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu, disebutkan dalam Shahih Bukhari memiliki perhatian besar terhadap hal ini.

Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu berkata bahwa beliau dan seorang tetangganya dari kaum Ansar bergantian turun menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Kesungguhan Sahabat Menghadiri Majelis Nabi

Umar bin Khattab radhiallahu ta’ala ‘anhu pernah bersama seorang tetangganya dari kalangan Anshar. Mereka bergantian menghadiri majelis Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Pada satu hari Umar hadir, sementara sahabat Anshar itu bekerja mencari nafkah untuk keluarganya. Setelah pulang dari majelis Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Umar menyampaikan petunjuk yang didengarnya. Keesokan harinya sahabat Anshar itu hadir, sementara Umar bekerja. Ketika pulang, ia menyampaikan kepada Umar pelajaran yang diperolehnya.

Para sahabat tidak ingin tertinggal dari petunjuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Pada masa ini, berbagai nikmat dan fasilitas tersedia. Rekaman kajian telah disiapkan oleh para ikhwan yang bertugas di bagian media, sehingga ceramah-ceramah bermanfaat dari para ustadz dan ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah mudah diakses.

Nikmat ini sangat besar. Namun, yang perlu diperhatikan adalah kesediaan meluangkan waktu untuk mendengarkannya, agar terkumpul lebih banyak bagian dari kebaikan hidup, manfaat hidup, dan makna hidup yang kembali kepada diri serta keluarga.

Hal seperti ini dilakukan oleh sahabat sekelas Umar bin Khattab radhiallahu ta’ala ‘anhu bersama sahabat Anshar tersebut.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Ali bin Abi Thalib juga melakukannya bersama Al-Miqdad bin Al-Aswad radhiallahu ta’ala ‘anhu. Para sahabat yang mulia tidak ingin kehilangan kesempatan memperoleh pelajaran agama dari petunjuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Mereka melakukan hal itu agar tidak luput dari makna kebaikan hidup yang hakiki, yang terdapat pada petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dan petunjuk Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mereka bergantian agar tetap dapat menunaikan kewajiban terhadap keluarga, sekaligus tidak kehilangan bimbingan untuk kebaikan hidup.

Takwa sebagai Jalan Keluar dan Kemudahan

Makna ini sangat agung dan menjadi solusi atas permasalahan. Solusi semua masalah adalah kembali kepada petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya.” (QS. At-Talaq [65]: 2)

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya.” (QS. At-Talaq [65]: 4)

Ini baru satu sisi dari makna kebahagiaan hidup. Kebahagiaan itu mencakup kemudahan, keberkahan, rezeki, kedamaian hati, hubungan dengan keluarga, dan segala hal yang didambakan manusia secara umum, terutama orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir.

Penafsiran Ulama tentang Kehidupan dalam Ayat

Ketika menyebutkan penafsiran ayat ini dari para ulama Ahlus Sunah, dinukil pernyataan Imam Mujahid bin Jabr Al-Makki rahimahullahu ta’ala, imam besar dari kalangan tabiin penduduk Makkah. Beliau menafsirkan firman Allah, “kepada sesuatu yang memberikan kehidupan bagimu,” dengan al-haq, yaitu kebenaran.

Kebenaran itulah yang menghidupkan. Hidup menjadi indah ketika seseorang mengikuti kebenaran dan petunjuk yang Allah turunkan dalam agama ini.

Imam Qatadah bin Di’amah As-Sadusi Al-Bashri rahimahullahu ta’ala, imam besar dari kalangan tabiin penduduk Bashrah, menafsirkan bahwa maksud ayat tersebut adalah Al-Qur’an. Dalam Al-Qur’an terdapat kehidupan yang sesungguhnya, kepercayaan, keselamatan, penjagaan, dan perlindungan di dunia serta akhirat.

Penafsiran para ulama tersebut berdekatan maknanya. Ajakan kepada sesuatu yang menghidupkan berarti ajakan kembali kepada Al-Qur’an dan kembali kepada kebenaran.

Imam As-Suddi rahimahullahu ta’ala menafsirkan bahwa maksudnya adalah Islam. Dengan Islam, Allah menghidupkan mereka setelah kematian. Kematian mereka adalah kekufuran, karena kekafiran merupakan kematian hati dan kematian yang hakiki.

أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا

“Apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah manusia, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan sehingga dia tidak dapat keluar darinya?” (QS. Al-An’am [6]: 122)

Menurut Imam Ibnu Qayyim rahimahullahu ta’ala, makna ayat ini adalah orang yang sebelumnya mati karena kafir dan tidak mengenal agama, kemudian diberi hidayah masuk Islam. Dengan hidayah itu, ia menjadi hidup dengan kehidupan yang sesungguhnya.

Imam Ibnu Ishaq dan Urwah bin Zubair bin Awwam rahimahumallahu ta’ala juga menafsirkan ayat tersebut. Lafaz yang dinukil adalah penafsiran Urwah bin Zubair, seorang tabiin yang mulia.

Makna “kepada apa yang memberikan kehidupan bagimu” adalah kepada peperangan atau jihad di jalan Allah. Dengan jihad itulah Allah memuliakan kaum beriman setelah kehinaan, menguatkan mereka setelah kelemahan, dan menjaga mereka dari musuh-musuh setelah sebelumnya musuh mampu menundukkan serta memaksa mereka. Jihad yang dimaksud adalah jihad yang sesuai dengan syariat.

Jihad yang benar adalah jihad yang dilakukan di bawah pimpinan pemerintah kaum muslimin, sebagaimana diterangkan dalam kitab-kitab ulama Ahlusunah wal Jamaah.

Hakikat Seluruh Penafsiran tentang Kehidupan

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah Ta’ala menjelaskan bahwa seluruh pernyataan ulama tentang tafsir ayat tersebut menggambarkan satu hakikat dan satu makna, yaitu menegakkan petunjuk yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lahir dan batin.

Para ulama ada yang menafsirkan sebagai al-haq, Islam, Al-Qur’an, dan jihad, ini semua kembali kepada seluruh syariat yang diserukan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Semuanya berarti menegakkan petunjuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam secara lahir dan batin. Inilah kehidupan yang hakiki, indah, penuh makna, dan benar-benar bermanfaat.

Download MP3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajian “Resep Hidup Bahagia” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56437-resep-hidup-bahagia/